• All
  • Category 1
  • Category 2

Tampilkan postingan dengan label T/11/OJ. Tampilkan semua postingan

gravatar

Apresiasi Buku “Jurnalistik Televisi” Karya Deddy Iskandar Muda

T12/OJ/2010
Marchiana Aulya Haqiqah
210110090187 

Buku ini berisi tentang Jurnalistik Televisi yang lebih menekankan Menjadi Seorang Reporter  Profesional. Pada  halaman pertama terdapat tulisan di atas tepat di tengah-tengah (center) Deddy Iskandar Muda seharusnya tulisan ini akan lebih baik terletak pada samping kiri bawah dan penataletakan nama tidak sesuai dengan sampul dalam arti tidak seragam. Pada sampul buku nama penulis ditulis di pojok kiri atas. Sementara pada halaman pertama nama penulis diletakan di tengah atau center.
Judul buku dengan isi atau materi yang dijelaskan pada halaman berikutnya atau per Bab kurang lebih sesuai dengan judul, karena buku ini berjudul Jurnalistik Televisi – Menjadi Reporter yang Profesional, jadi banyak sekali istilah yang terkandung dalam buku ini yang berkaitan dengan judul buku terutama dengan istilah reporter, bagaimana seorang reporter bekerja seharusnya.
Pada pengantar, penulis mencoba menggunakan bahasa yang lumrah namun juga berkesan. Pesan yang disampaikan oleh penulis sebagai tanda sapaan pada para pembacanya cukup mewakili buku yang akan dibaca ini.  Penulis menjelaskan tentang  perekembangan pertelivisian di Indonesia saat ini.
Pada paragraf kedua kalimat kedua, penulis menggunakan istilah “mengakses”. Bisa saja istilah ini digunakan tapi mengingat dulu kultur bahasa yang masih asing dengan istilah ini dalam arti kata serapan dari bahasa asing, maka akan lebih baik jika penulis menggunakan kalimat “konsumsi”.
Paragraf berikutnya terdapat kesalahan penulisan pada kalimat satu, di mana penulis  menuliskan “memenej”, padalah lebih baik penulis menuliskan langsung istilah aslinya tanpa harus memiringkan tulisan. Jadi, bisa saja penulis menulisnya “me-manage”. Kemudian di kalimat berikutnya terdapat tulisan yang salah cetak juga “andal” dan “mumpuni”. Sebenarnya saya sedikit ragu dengan penulisan ini tapi jika dilihat dari kamus, istilah ini tidak ditemukan dan tentunya tidak memiliki arti yang signifikan. Seharusnya kata “andal” ditulis “handal”. “mumpuni” dapat ditulis dengan kata “mampu”. Dan jika sudah diganti seperti ini membacanya pun lebih nyaman dan kalimat terasa lebih padu untuk dibaca.
Pada paragraf empat terdapat kata pada suatu kalimat yang salah pencetakan “...untuk untuk siaran berita...” mungkn di sini penulis lengah tapi tidak sepantasnya tertulis begini karena mengingat ini baru permulaan penulisan (masih dalam konteks pengantar).
Pada paragraf berikutnya terdapat tulisan yang tidak sesuai dengan judul, di pengantar tertulis “Reporter Televisi Profesional”, sebenarnya tidak ada yang salah jika penulis memang mau menuliskan seperti ini tapi kalimat sebelum dan sesudah kata Reporter Televisi Profesioanal  penulis menuliskan “Buku Reporter Televisi Profesional ini berharap...” padah jika dilihat dari judul sudah jelas tertulis “...Menjadi Reporter Profesional”. Seharusnya penulis lebih jeli dalam menggunakan kata dan setidaknya memilih sekiranya mana tulisan yang lebih mewakili buku ini (cocok).
Pada daftar isi penulis menuliskan sesuai dengan urut bahasan yang dijelaskan di halaman-halaman berikutnya. Pada bab pertama penulis menjelaskan mengenai awal mulanya pertelivisian di berbagai belahan dunia. Sayangnya di awal kalimat penulis tidak membuatnya menjorok kedepan untuk sekiranya beberapa sentimeter. Kerena dengan begitu kalimat pertama akan terlihat seperti paragraf dan ini akan terlihat bagus. Kemudian pada kalimat kedua terdapat tulisan yang sebaiknya di singkat saja seperti pada kata “...Sebelum Masehi” padahal ini bisa ditulis SM dan ini sudah menjadi singkatan yang cukup dikenal masyarakat artinya mereka sudak tahu jika tertulis SM itu berarti Sebelum Masehi apalagi jika sebelumnya disertai angka yang menunjukan tahun. “eksemplaar” seharusnya ditulis “eksemplar”.
Pada paragraf ketiga terdapat tulisan yang seharusnya tidak ditulis demikian “...,tengah hari,...” seharusnya penulis cukup menuliskan “siang hari” karena logikanya hari tidak memiliki tengah. Pada paragraf enam terdapat kalimat yang rancu untuk di dengar “Peletak dasar...”, tidak enak untuk di baca. Kemudian di kalimat terakhir paragraf ini terdapat kata serapan yang ditulis tegak  “electrische”. Pada paragraf berikutnya tedapat tulisan yang terdengar “nereleng” artinya tidak memiliki tanda baca, ini terbaca di kalimat pertama “...negara lainnya terlebih...”seharusnya setelahkata lainnya terdapat tanda baca koma (,) sehingga kami sebagai pembaca dapat mengatur nafas saat membacanya. Pada paragraf duabelas terdapat tulisan yang memiliki makna yang sama “adalah merupakan...” seharusnya gunakan salah satu kata saja, karena jika tertulis seperti ini arti masih sama. 
Pada halaman enam terdapat suatu kalimat yang terdiri dari berbagai macam jeda artinya beda-beda segmen  yang seharusnya di poinkan, sehingga untuk di bacapun enak. Terdapat juga subjudul yang tidak memakai tanda kalau dalam istilah komputer disebut Bullets and Numbering, sehingga dapat menjadi tanda.
Sama halnya dengan Bab pertama maupun pengantar, di awal kalimat penulis tetap menuliskan kalimatnya tanpa menjorok kedalam untuk beberapa sentimeter, seharusnya kebiasaan seperti ini tidak terulang lagi tapi entah apa maksud dari penulis yang jelas ini terus berulang hingga Bab-bab berikutnya. Pada Bab ini juga penulis menuliskan subjudul tanpa Bullets and Numbering, seringkali pembaca terkecoh dengan format tulisan yang seperti ini, karena pembaca terkadang dibuatnya bingung untuk memilah mana yang termasuk pada pembahasan dan subjudul.
Pada paragraf ini juga terdapat tanda baca yang kurang relevan, misalnya saja jika penulis menggunakan tanda petik pada kalimat serapan maka kata tersebut tidak usah ditulis miring, karena dengan begitu akan boros. Pada Bab ini juga penulis melengkapi materinya dengan tabel. Dalam hal ini materi yang tersaji di pembahasan Bab ini tersaji lumayan cukup lengkap.
Pada pembahasan Bab berikutnya, penulis menjelaskan tentang Menulis Naskah Berita Televisi. Pada paragraf  ketiga pada kalimat terakhir penulis tidak mencantumkan tanda baca titik (.).  kemudian pada paragraf berikutnya di kalimat pertama penulis menuliskan “Maksudnya bahwa...” jika penulis menuliskannya seperti ini maka  penulis seharusnya mencantumkan tanda baca koma setelah kata “Maksudnya..” seharusnya ditulis “Maksudnya,...”atau lebih baik lagi tidak usah di tulis demikian karena kata “Maksudnya dengan bahwa” itu tidak padu, atau terbaca aneh. Selebihnya materi yang tersampaikan dalam bab ini kurang lebih cukup lengkap karena penulis menyertakan struktur berita yang digambarkan dengan segitiga utuh, persegi dan segitiga terbalik.
Sama halnya seperti pada pembahasan sebelumnya, pada Bab ini juga tidak dicantumkan Bullets and Numbering,  dan pada Bab ini lebih parah lagi, karena subjudul tertulis miring dan lebih kecil dan juga tidak Bold.  Selebihnya dari itu penulis menggunakan Bullets and Numbering.
Judul yang tertulis di Bab empat terbaca rancu “Meliput Berita Hingga Siap Siar”, kata Siap Siar itu tidak baku. Pada Bab ini penulis sudah mulai menggunakan Bullets and Numbering, sehingga untuk membaca tulisan ini lebih terstruktur, padu dan mengalur. Dan juga penulis mencantumkan grafik sehingga data atau materi lebih jelas tersaji.
Pada Bab lima penulis menjelaskan tentang “Bulletin, Format dan Proses Penyiaran” pada Bab ini penulis mulai menyertakan gambar. Namun pada pembahasan bagia Format Penyajian, penulis menuliskan beberapa point, di mana didalamnya  terdapat point-point dengan huruf kapital dan lagi uraian dari kaliamat setelahnya tulisan itu menjadi kecil. Di sini juga penulis mencantumkan tabel dan sayangnya tabel terlihat tidak rapi artinya penulis hanya mencantumkan garis-garis hanya sebagai pembatas. Dan juga pada penjelasan terakhir penulis menyertakan bagan.
Pada Bab enam penulis membahas tentang “Standar Prosedur Pengoperasian”. Pada pembahasan ini cukup baik. Pada kalimat kelima penulis menuliskan kata “pertama”, sementara itu di kalimat-kalimat berikutnya penulis tidak menuliskan kata “kedua” padahal logikanya setelah pertama pastinya ada kedua, tapi di sini tidak ada, malah digantikan dengan kata “kemudian, lalu, ...”.
Pada Bab tujuh penulis terlalu singkat untuk mencantumkan kata pengantar kalimat.
Kesimpulannya buku ini tersaji lengkap, penulis juga menyertakan Glosarium dan juga beberapa lampiran yang dirasa dapat menjadi nilai lebih bagi para pembaca. Seperti pada umumnya buku ini juga disertai daftar pustaka dan riwayat penulis. Hanya saja terkadang penulis lupa akan Bullets and Numering . (***)
  

gravatar

Apresiasi Buku "Jurnalistik Televisi : Menjadi Reporter Profesional" karya Deddy Iskandar Muda

T11/OJ/2010
Indira Listiarini
210110090014

            Buku Jurnalistik Televisi :Menjadi Reporter Profesional karya Deddy Iskandar Muda ini membahsa mengenai jurnalistik televisi mulai dari sejarah hingga struktur di dalamnya. Bahkan proses penyiaran pun  dijelaskan dalam buku ini. Secara keseluruhan buku ini sudah menggunakan bahasa yang baik sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Pedoman Ejaan Yang Disempurnakan. Pembahasan buku ini berbobot namun menggunakan bahasa yang ringan sehingga pembaca tak bingung dengan penjelasan buku ini. Buku ini juga dilengkapi dengan glosarium dan lampiran-lampriran seperti pedoman penulisan bagi wartawan Indonesia, Kode Etik Jurnalistik, dan Undang-Undang Pers untuk menunjang pengetahuan mengenai jurnalisti televisi.
            Bab I menjelaskan terlebih dahulu mengenai televisi. Sejarah perkembangan media dijelaskan secara singkat dalam bab ini. Mulai dari media cetak, media radio, kemudian media televisi. Namun sejarah yang dijelaskan ini lebih mengenai perkembangan. Seharusnya penjelasan mengenai sejarah adalah bagaimana media cetak, radio dan televisi ditemukan dan bagaimana ia berkembang dari masa ke masa. Setelah sejarah dijelaskan, buku ini menjelasakan 2 hal penting dalam televise, program siaran dan reporter. Menurut saya bab ini memiliki kekurangan karena dari awal ia tak menjelaskan mengenai televisi di Indonesia, sedangkan dalam sub bab program siaran, TVRI sudah dituliskan. Sub bab reporter dalam bab ini menjelaskan apa itu reporter. Sub bab ini menjelaskan pula perbedaan wartawan dengan reporter. Bagaimana tugas reporten dan apa saja yang perlu diperhatikan sebagai reporter dijelaskan dalam sub bab ini.
            Bab II menjelasakn mengenai pengertian berita khususnya berita media elektronik. Pembahasan pertama bab ini sangat baik karena buku ini menjelaskan sebelum masuk ke hal proses berita, terlebih dahulu dijelaskan pengertian berita. Apa tujuan utama penyajian berita diterangkan dalam buku ini. Apa saja hal-hal penting dalam berita pun dijelaskan secara baik. Sub bab pertama menjelaskan mengenai berita media elektronik. Penulisan berita media cetak dan elektronik berbeda. Penjelasan mengenai perbedaan itu deijelaskan secara rinci dalam buku ini. Pemilihan materi berita dalam bab ini menjelaskan bahwa nilai berita sangat bergantung pada beberapa pertimbangan berikut : waktu yang tepat, kedekatan, orang yang terkemuka , akibat ,konflik , pembangunan , bencana dan kriminal, cuaca, olah raga, dan human interst. Berbeda dengan buku Jurnalistik Teori dan Praktik karya Prof. Dr. Muhammad Budyatna, M.A . Nilai berita menurut buku ini adalah waktu yang tepat/ aktualitas,kedekatan, dampak, dan human interest. Dalam buku ini, human interest dikelompokkan lagi menjadi ketegangan, ketidaklaziman, minat pribadi, konflik, simpati, kemajuan, seks, usia,binatang, dan humor. Dalam bab ini, jenis berita dijelaskan secara singkat namun jelas. Cukup untuk memberi pengetahuan mengenai jenis berita.
            Bab III menjelaskan mengenai penulisan naskah berita televisi. Mulai dari formula penulisan, struktur berita, tanda baca, angka, dan singkatan, keselarasan / sinkronisasi, serta sumber berita. Formula untuk menuju easy listening : accuracy (tepat), brevity (singkat), clarity (jelas), simplicity (sederhana) ,dan sincerity (jujur). Dalam sub bab struktur berita digambarkan mengenai bagian berita yakni : pembukaan, uraian, kesimpulan. Penulisan tanda baca, angka, dan singkatan pada media televisi berbeda dengan media cetak. Dalam media televisi, reporterlah yang membacakan berita kepada pemirsa, karena itulah tanda baca tak semua dipakainagar penyiar tidak mengalami kesulitan dan pemirsa dapat dengan mudah memahami informasi yang disampaikan. Keselarasan gambar ddengan naskah dalam media televisi sangatlah penting. Keselarasan kedua hal tersebut akan member daya tarik serta memudahkan pengertian bagi pemirsa. Dalam pencarian sumber berita, bab ini menjelaskan bagaimana sumber berit dapat diperoleh baik berita nasional maupun internasional.
            Bab IV dan Bab V secara garis besar menjelaskan mengenai proses penyiaran berita. Mulai dari persiapan, penyuntingan dan penyusunan berita, penyusunan urutan prioritas, hingga penyiaran beritanya. Dalam Bab V pun dijelaskan mengani tanggung jawab saat penyiaran berita. Menurut saya, seharusnya hal itu dibahasa dalam Bab VI yaitu standar prosedur pengoperasian. Siapa saja yang bertanggung jawab dan apa saja tanggung jawabnya harusnya dijelaskan secara rinci.
            Bab VII menjelaskan mengenai struktur organisasi kerja bagian pemberitaan. Bab ini menjelaskan mengenai tugas masing-masing anggota. Bagi saya bab ini harusnya ditambahkan dengan keterlibatan crew studio pada Bab V. Keterlibatan crew studio disini menurut saya harusnya masuk dalam bab VII ini. Bagaimanapun crew termasuk sebagai anggota dan harus dijelaskan secara rinci dalam bab VII ini. Bab ini sangat baik dalam menjelaskan struktur. Muali dari dasar pembentukan, direktur pemberitaan dan wakilnya, penulis berita, pembantu redaksi, penyiar, reporter dan editor. Reporter dan editor pun dijelaskan juga pembagian kerjanya secara lengkap. Hal ini memudahkan pembaca untuk mengerti bagaimana stuktur organisasi dalam media televisi ini. Namun seperti yang aya jelaskan di atas, ada baiknya apabila crew pun dimasukkan dalam Bab VII ini. Struktur organisasi adalah seluruh orang yang terlibat dalam media televisi ini dan harus dijelaskan mengenai tugas dan perannya.

gravatar

Apresiasi Buku “Jurnalistik Televisi : Menjadi Reporter Profesional” Karya Deddy Iskandar Muda

T11/A/2010
Alika Nugraha
210110090029

            Membaca buku karya Deddy Iskandar Muda ini adalah pilihan tepat bagi mereka yang ingin mempelajari lebih dalam lagi tentang apa itu jurnalistik televisi. Disini dengan lengkap dijelaskan dasar-dasar jurnalisme televisi seperti apa itu berita, beserta jenis-jenisnya, lalu bagaimana cara menulis naskah yang baik untuk berita televisi, kemudian ada juga cara untuk meliput berita dan menyiarkannya, sampai dengan  standar prosedur pengoperasiannya. Pada bab terakhir buku ini juga memuat tentang struktur organisasi dalam sebuah pertelevisian, saya rasa ini berguna sekali, terutama bagi mereka yang masih bingung akan pembagian kerja didalam sebuah struktur organisasi di sebuah perusahaan televisi. Terakhir buku ini juga melampirkan beberapa lampiran penting Berupa Pedoman Penulisan Bagi Wartawan Indonesia, Kode Etik Jurnalistik dan juga Undang-Undang RI mengenai pers.
Dalam bab satu yang memuat mengenai sejarah media, satu hal yang mungkin saya bisa garis bawahi adalah kalimat dimana ketiga media yang ada, yaitu cetak, radio dan televisi akan saling mengisi. Disana disebutkan bahwa tidak akan ada satu media pun yang akan tergeser, ini semua dikarenakan daya tarik beserta keunggulan dan kelemahan masing-masing media tersebut. Saya pikir itu semua ada benarnya, malah sebenarnya kata melengkapi adalah yang paling cocok. Apabila kita ingin mendapatkan berita yang sifatnya selintas kita bisa mendengarkan radio, dan kalau kita mau mendapatkan detail beritanya setelah itu, kita tinggal melihatnya di media cetak yang akan terbit besok. Lalu sebagai pelengkap dari semua itu, Tv yang menjadi media audio-visual bisa digunakan sebagai penjelasnya. Selebihnya pada akhir bahasan bab satu ini yaitu mengenai program siaran dan profesi reporter saya kira akan cukup berguna untuk menambah pengetahuan kita tentang dunia pertelevisian.
Bab dua yang ada di dalam buku ini membahas tentang berita. Saya kira ini bukanlah hal yang aneh dalam sebuah buku mengenai jurnalistik, nilai-nilai dan jenis berita yang ada saya rasa hampir sama pembahasannya dengan apa yang ada dalam buku-buku jurnalistik lainnya. Namun apabila dilihat dari buku Mondry, M.Sos. yang berjudul Pemahaman Teori Dan Praktik Jurnalistik, seharusnya cuaca dan olahraga tidak termasuk kedalam nilai berita.
Penulisan naskah berita di televisi yang dijelaskan pada bab 3, terutama formula yang diberikan yaitu ABC-SS (Accuracy, Brevity, Clarity, Simplicity, Sincerity) sangat sesuai dengan kata-kata dalam buku yang sama dengan yang dibahas diatas, yaitu berita di televisi haruslah sederhana, singkat, enak supaya enak didengar oleh para khalayaknya.
Sedangkan dalam bab empat sendiri yaitu mengenai peliputan berita, kita akan diajarkan mengenai cara persiapan peliputan, bagaimana cara menggambarkan peristiwa, menulis, menyunting dan menyusunkan berita, sampai dengan  mengetahui bagaimana format naskah dan petunjuk dalam menyiarkan suatu berita.. Dalam persiapan meliput berita, kita akan mengetahui mengenai berapa orang kah harusnya suatu tim peliputan itu terdiri. Dalam otak saya peliputan itu sudah cukup bisa dilakukan dengan dua orang saja, namun ternyata masih dalam buku ini disebutkan bahwa ada dua orang lagi yang berpengaruh yaitu Soundman dan Lightingman. Dalam sub bab menggambarkan peistiwa dalam berita Tv, saya kini mengetahui bagaimana proses untuk melaporkan suatu berita yang baik tanpa mengengurangi nilai-nilai penting beritanya. Cara yang mungkin bisa saya ingat sampai kapan pun adalah mengembangkan daya imajinasi seorang reporter atau juru kamera itu sendiri dalam memvisualisasikan suatu berita. Saya kira dengan begitu pemirsa televisi yang menonton pun tidak akan bingung dan akan memahami sinkronisasi antara berita yang disiarkan dengan gambar yang ada. Kemudian untuk menyunting dan menyusun berita di Televisi, saya kini memahami antara kerjasama yang harus dilakukan oleh seorang reporter dan juga editornya. Masing-masing harus bisa bekerja sama dalam hal penyajian berita, dimana pemikiran reporter mengenai apa yang mereka tulis dengan pemikiran editor yang akan menyajikan gambar haruslah sama. Ini dilakukan supaya naskah yang ada, atau berita yang disampaikan didukung oleh gambar atau visual yang sinkron, hal ini sesuai dengan apa yang tertulis dalam buku Bahasa Jurnalistik:Panduan praktis jurnalis dan penulis, karya Drs. AS Haris Sumadira M.Si. , yaitu bahasa televisi dirancang secara teknis untuk memadukan gambar, kata-kata dan suara sekaligus pada saat bersamaan dan simultan.
Bab ke lima dan ke enam buku ini membahas hal-hal mengenai bulletin, format dan proses penyiaran yang hampir sama dibahas dalam bab-bab sebelumnya, namun kali ini lebih spesifik lagi, yakni dengan melibatkan orang-orang yang ada di dalamnya seperti dubber dan para crew studio. Jenis-jenis siaran yang ada dalam bab enam saya kira hampir sama dengan apa yang ada dalam jurbalistik radio, dimana  terdapat dua jenis siaran, siaran langsung dan juga siaran tunda.
Bab terakhir dalam buku ini membahas tentang struktur kerja bagian pemberitaan dalam sebuah perusahaan televisi. Disini disebutkan tugas-tugas dan pembagian kerja mereka secara lugas. Namun yang perlu disayangkan disini adal;ah tidak adanya bagan yang bisa memudahkan kita untuk melihat urutan struktur yang disebutkan. Ini berbeda dengan apa yang terdapat masih dalam buku Mondry, M.Sos. yang berjudul Pemahaman Teori Dan Praktik Jurnalistik, yakni urutan jabatannya distrukturkan dan divisualisasikan dalam bagan, sehingga memudahkan kita untuk melihat secara langsung dan jelas pembagiannya.

gravatar

Apresiasi Buku “Jurnalistik Televisi Menjadi Reporter Profesional” Karya Deddy Iskandar Muda

T11/OJ/2010 

Adhie Fahmi

210110090321

Apresiasi untuk kesekian kalinya ini adalah mengenai buku "Jurnalistik Televisi". Dari segi judul, judulnya sudah menarik, apalagi bagi mereka yang memang ingin berkecimpung di dunia pertelevisian. Dari pelajaran saya selama hidup ini, saya pernah mendengar jika judul sebuah buku atau tulisan memperlihatkan segmentasi. Nah, dilihat dari segi judul buku ini, menurut saya segmentasinya cenderung mengarah untuk mereka yang dari segi umur sudah berada di kisaran 18 keatas. Lebih di spesifikkan lagi, buku ini ditujukan bagi mereka yang berkecimpung di dunia komunikasi. Lebih diruncingkan lagi, buku ini ditujukan bagi mereka yang bergelut dengan dunia jurnalitik. misalnya, misalnya saya dan teman-teman sejawat di Jurnalistik, Fikom Unpad. Dan tentunya bagi orang-orang komunikasi yang menyukai pertelevisian, judul buku ini jelas diperuntukkan bagi mereka.

Dalam pembukaan buku, dijelaskan mngenai sejarah pertelevisian. Menurut saya penuturan sejarah di awal buku ini bagus sekali. Bagaimana mungkin kita bisa mengenal seseorang atau sesuatu, tanpa mengetahui terlebih dahulu sejarahnya? nah, dalam buku ini, menurut saya si penulis tahu benar bagaimana cara mengenalkan buku dan isinya pada pembaca diawal pertemuan. Apresiasi saya mengenai sejarah dalam bab awal ini adalah : cerdas. Ya, tentu saja cerdas, penulis yang sepertinya begitu mengenal pembaca bisa membawa pembaca terjun dan ikut serta dalam sejarah pertelevisian yang ia paparkan. Saya tidak tahu profile sehari-hari penullis, tapi sepertinya penulis yang satu ini juga handal ketika ia menulis novel. Yang menarik dalam pembahasan sejarah, penullis membandingkan penyiaran televisi Indonesia dan Amerika. Disebutkannya jika pertelevisian atau penyiaran di Indonesia begitu mengarah ke penyiaran Amerika. Saya setuju dengan statement penulis akan hal tersebut. Pertelevisian kita, yang notabene lebih belakangan mempunyai siaran televisi, pasti mengikuti penyiaran Amerika yang telah lebih dulu hadir di pertelevisian dunia. Tak heran jika penyiaran Amerika menjadi kiblat penyiaran kita. Jadi, apakah salah berkiblat ke Amerika dalam hal pertelevisian? oh, tentu tidak. Sebagaimana kita ketahui, sesuai perkataan Prof Dedy, jika komunikasi yang betul-betul dipakai dengan handal, adalah di Amerika. Nah, dalam pertelevisian-pun, Amerika juga handal dalam penyiaran.

yang menonjol buku ini juga adalah mengenai pembahasan penulis tentang organisasi dalam dunia televisi. Kita pasti tahu, dunia jurnalisik adalah dunia yang kompleks dan complicated. Di dalamnya ada pekerjaan yang ng-press, sampai ada pengolahan organisasi yang rumit dan cukup sulit untuk di-menej. Kehadiran pembahasan organisasi dalam dunia televisi ini menjadi nilai tambah bagi buku ini. Selain menceritakan tentang apa itu televisi, apa itu penyiaran, ternyata kita tetap bisa mendapatkan ilmu yang lebih, yaitu dengan mendapatkan ilmu tentang pengorganisasian. Memang, di kampus kita mempelajari tentang organisasi, tapi itu organisasi secara umum, tak seperti dalam buku ini yang secara spesifik membahas organisasi dalam dunia televisi. Menurut saya, penulis mengerti sekali jika apa yang akan didapat oleh pembaca bukan hanya menjadi orang yang handal dalam penyiaran, tapi juga handalam dalam masalah pengorganisasian. Apresiasi saya mengenai sisi lain dari bahasan yang ada dalam buku ini (yaitu mengenai pengorganisasian) adalah satu jempol kanan yang saya acungkan ke atas.

Langsung bernajak ke bab 4, di mana di sana kita akan menemui penjelasan penulis mengenai peliputan hingga liputan kita siap untuk disiarkan. oke, dalam bab ini apresiasi saya yang pertama adalah : penulis sudah menuliskan step-step peliputan sampai siar dengan rapih dan kronologis. Susunan penjelasan yang rapih ini adalah nilai plus yang banyak untuk buku ini. Mengapa? ya tentu saja ini positif bagi pembaca, pembaca adalah raja yang ingin disuguhi tulisan yang terstruktur dengan baik. Dan penulis dalam bab ini sudah memberikan hidangan yang mantap untuk si raja. Dari segi penulisannya yang kronologis ini, saya melihat jika penulis memang orang yang sudah handal memahami langkah-langkah penyiaran dalam televisi. Melihat hal ini, saya jadi merasa jika orang yang menulis buku ini adalah orang yang kredibel. Salut unuk penulis
di sisi lain, si "raja" juga sudah diberi pelayanan yang baik lagi, yaitu dengan ditambahnya contoh-contoh yang hadir dalam bab ini. Sekali lagi, menurut saya, penulis memang seperti menganggap jika pembaca adalah raja yang benar-benar harus dilayani dengan baik. Contoh-contoh yang penulis sampaikan begitu mengintepretasikan apa yang ia jelaskan sebelumnya. Jika ada pembaca yang sulit menejemahkan arti tulisan penulis di bagian pembahasan, contoh-contoh ini membantu memberi penerangan bagi pembaca untuk menambah kesamaan persepsi antara pembaca dan penulis. Dalam hal ini, saya melihat jika penulis ingin membuat sebuah hubungan manis antara ia dan pembacanya. Hal ini bagus, karena menurut Dosen saya, Pak Dandi, tulisan penulis yang bagus adalah jika penulisn mampu memosisikan dirinya sebagai pembaca dan bisa melihat dari kacamata pembaca.

Bagi Anda yang memang berniat untuk terjun ke dunia pertelevisian, buku ini adalah pedoman yang baik dalam menuntun anda menjadi handal dalam dunia televisi. Buku ini bisa menjadi sebuah ideologi anda dalam bertindak di dunia televisi. Tak hanya menjadi pondasi dalam dunia televisi, buku ini juga bagu untuk dijadikan standar pengetahuan bagi mereka yang baru memasuki dunia jurnalistik, terutama jurnalistik televisi. Nah, apakah pantas buku ini disebut sebagi buku wajib bagi mereka yang ingin memasuki duni televisi? buku ini memang wajib, wajib bagi mereka yang menginginkan pengetahuan dasar jurnalistik televisi. Jika saya menjadi dosen mata kuliah Jurnalistik Televisi, saya akan menganjurkan mahasiswa saya untuk mengapresiasi buku ini juga, karena buk ini memang pas untuk mereka yang ingin sekali medapatkan ilmu tentang dunia televisi. Meskipun saya tak dibayar untuk berbicara hal postif tentang buku ini, tapi saya tetap menganjurkan bagi mereka yang akan memasuki dunia televisi untuk terlebih dahulu membaca buku ini sebagai pemahaman dasar dalam bertindak di dunia televisi.






gravatar

Apresiasi “Jurnalistik Televisi” karya Deddy Iskandar Muda (Odelia Sinaga)

T11/ OJ / 2010                                                                             
ODELIA SINAGA
210110090099


Buku yang berjudul Jurnalistik Televisi Menjadi Reporter Profesional ini dari segi judul dapat dilihat diketahui buku ini berisi tentang dunia Jurnalistik di Televisi yang memiliki berbagai macam hal-hal yang sebaiknya diketahui oleh wartawan. Judul buku ini menerangkan bahkan menurut saya terkesan menegaskan bagaimana menjadi reporter yang baik yang dapat dibaca melalui buku ini. Menurut saya, judul buku ini sudah dapat mewakili apa yang ada menjadi isi buku, tidak terdapat kerancuan kalimat atau kata-kata yang memiliki makna-makna lain.
 Bab I yang berjudul Televisi ini menurut saya telah dapat memberikan gambaran sebagai awal untuk memulai dalam pembahasan di bab ini. Dalam bab I ini terdapat penjelasan mengenai fungsi pers dan media yang terdapat juga dalam buku Komunikasi Massa Suatu Pengantar karya Elvinaro Ardianto, dkk. Menurut saya, apa yang dituliskan dalam buku Komunikasi Massa ini lebih lengkap dari buku yang sedang dibahas ini karena buku ini membagi penjelasan tentang fungsi dan peranan serta pembagian penjelasan tentang fungsi yang tepat untuk media massa.
Hal ini menurut saya terjadi karena buku ini memang khusus membahas tentang komunikasi massa sehingga pembahasannya lebih mendalam sehingga berbeda dengan buku yang sedang dibahas ini. Bahasa yang digunakan dalam bab ini jelas walaupun panjang karena lebih banyak ditulis dengan bentuk paragraf sehingga terkesan bertele-tele. Akan tetapi, dengan adanya penggunaan contoh menurut saya akan membantu pembaca untuk lebih memahami apa yang dibahas dalam bab ini. Hal lain yang menurut saya menjadikan bab ini menarik adalah adanya gambar atau foto sehingga dapat dilihat oleh pembaca dan dengan adanya gambar menurut saya akan membuat mata kita tertarik untuk melihat dan membaca penjelasan tentang gambar tersebut.
 Bab II yang berjudul Pengertian Berita ini dari segi judul menurut saya sudah dapat memberikan gambaran kepada pembaca tentang apa yang dibahas dalam bab ini. Bab II ini menggunakan bahasa yang jelas sehingg tidak rumit untuk dibaca. Bab ini juga menggunakan sub-subjudul yang menurut saya akan memudahkan pembaca untuk fokus akan apa yang dibaca sesuai dengan subjudul mana yang sedang dibaca. Dalam bab ini terdapat penjelasan mengenai memilih materi berita yang dalam tulisan Wawancara dalam Konteks Jurnalisme karya S. Sahala Tua Saragih terdapat dalam bagian atau subjudul nilai berita. Walaupun terdapat perbedaan beberapa point antara tulisan ini dengan apa yang ada dalam buku, isinya tetap menjelaskan bahwa point-point yang ada dalam dua sumber ini memang diperlukan untuk membuat berita menjadi menarik dan mempunyai nilai.
 Perbedaan point-point itu menurut saya terjadi karena penulis mempunyai referensi yang berbeda-beda ketika menuliskan tentang hal itu. Penjelasan yang diberikan di buku pun lebih panjang dan menggunakan contoh sehingga akan lebih jelas apabila dibaca. Penjelasan mengenai nilai berita ini juga terdapat dalam buku Jurnalistik Teori dan Praktik karya Muhammad Budyatna yang memberi penjelasan juga, tetapi tidak begitu lengkap karena hanya menuliskan beberapa unsur saja. Penjelasan bab ini mengenai jenis berita menurut saya bagus karena dapat menjadi pengetahuan bagi pembaca akan jenis-jenis berita sehingga pembaca mengetahui ketika sedang menonton siaran berita. Penggunaan EYD dalam bacaan ini belum sempurna secara keseluruhan, tetapi untuk penulisan istilah asing atau bahasa asing telah tepat seperti yang ada dalam buku Cermat Berbahasa Indonesia karya Zaenal, yaitu ditulis miring.
 Bab III yang berjudul Menulis Naskah Berita dari segi judul jelas dan tidak bertele-tele sehingga pembaca dapat mengerti. Pembahasan dalam bab ini panjang karena membahas beberapa hal yang memakai sub-subjudul juga. Dalam bahasan mengenai formula penulisan menurut saya bagus dan menarik karena memberikan penjelasan berupa point-point dan penjelasannya yang disertai dengan contoh-contoh sehingga pembaca akan mengerti dengan cepat mengenai formula penulisan. Penjelasan mengenai struktur berita yang terdapat juga penulisan berdasarkan piramida terbalik juga terdapat dalam buku Jurnalistik Teori dan Praktik yang memberikan penjelasan yang sama walaupun dalam penggunaan bahasa menggunakan bahasa yang berbeda.
 Menurut saya, akan lebih mudah dimengerti apabila menggunakan bahasa Indonesia seperti yang dipakai dalam buku Jurnalistik Teori dan Praktik tersebut karena tidak semua pembaca akan mengerti apa yang ditulis dengan menggunakan bahasa asing. Selain itu, bab ini juga menjelaskan bagaimana pentingnya tanda baca dalam menulis naskah berita. Hal ini menurut saya penting untuk diketahui oleh pembaca agar dapat menjadi referensi bagi mereka. Jenis-jenis wawancara yang terdapat dalam bab ini juga terdapat dalam buku Teknik Wartawan Menulis Berita di Surat Kabar dan Majalah karya Widodo yang menuliskan bagaimana jenis-jenis wawancara itu walaupun ada juga terdapat perbedaan di antara kedua buku ini mengenai jenis wawancara itu. Menurut saya, tergantung penulisnya melihat dan mendapat referensi dari mana ketika menuliskan tentang itu. Bab ini memberikan penjelasan yang menarik menurut saya dan disertai dengan contoh yang diberi tanda yang berbeda sehingga langsung dapat terlihat oleh pembaca. Penggunaan gambar dalam bab ini juga mempermudah pembaca mengerti akan apa yang digambarkan sehingga dapat menjadi referensi bagi pembaca.
 Bab IV yang berjudul Meliput Berita Hingga Siap Siar dari segi judul menurut saya menggunakan kata-kata nonbaku yang mungkin saja dipakai agar singkat, tetapi tetap saja tidak bagus ketika dibaca. Apabila memakai kata-kata baku, judul bab IV ini seharusnya Meliput Berita Hingga Selesai Siaran atau Meliput Berita Sampai Selesai. Bab ini juga memakai sub-subjudul sehingga memudahkan pembaca untuk fokus akan apa yang dijelaskan per subjudul. Dalam bab ini juga dibahas mengenai unsur 5W+1H, yang ada dalam penulisan berita langsung. Hal ini juga terdapat dalam buku Jurnalistik Teori dan Praktik karya Muhammad Budyatna yang menjelaskan adanya unsur tersebut dalam sebuah lead dengan penjelasan yang lengkap dalam buku ini sehingga pembaca akan lebih mudah untuk mengerti.
 Perbedaan lengkap dengan tidak lengkapnya suatu penjelasan dalam buku menurut saya terjadi karena sesuai dengan apa yang menjadi referensi dari penulis. Bahasa yang digunakan dalam bab ini jelas dan mampu menjelaskan akan apa yang sedang dibahas. Menurut saya, penjelasan dalam bab ini penting diketahui agar meliput berita dapat dilakukan sampai selesai. Penggunaan contoh-contoh akan mempermudah pembaca untuk mengerti dan penulisan istilah asing atau bahasa asing yang telah sesuai dengan EYD, yaitu dengan tulisan miring.
 Bab V yang berjudul Buletin, Format, dan Proses Penyiaran ini dari segi judul menurut saya jelas karena langsung kepada inti yang akan dibahas dalam bab ini. Bab ini juga memakai sub-subjudul sehingga lebih terfokus akan penjelasn-penjelasannya apalagi bab ini juga banyak memakai istilah asing sehingga perlu penjelasan yang detail agar pembaca dapat lebih mengerti. Penggunaan gambar dalam bab ini juga bagus menurut saya karena akan menarik perhatian pembaca untuk terus membaca penjelasan akan gambar. Apa yang dibahas dalam bab ini telah lengkap dan penting untuk mengetahui lebih jelas mengenai buletin, format, dan proses penyiaran yang menurut saya bukan hal yang mudah untuk mempelajarinya.
Walaupun bahasa yang digunakan dalam bab ini banyak yang memakai bahasa asing, tetap akan terbantu karena adanya pengertian akan istilah asing tersebut bahkan penjelasannya sehingga pembaca menurut saya tidak akan kesulitan ketika membacanya. Penggunaan EYD dalam bab ini belum tepat secara keseluruhan, tetapi ada juga yang benar, yaitu penggunaan anak kalimat di awal kalimat yang memakai tanda koma sebelum induk kalimatnya, misalnya untuk mengisi suara, seorang reporter harus memahami beberapa langkah seperti yang akan diuraikan berikut ini. Hal ini memang tepat sesuai dengan buku Cermat Berbahasa Indonesia karya Zaenal.
 Bab VI yang berjudul Standar Prosedur Pengoperasian dari segi judul langsung dapat mewakili apa yang akan dibahas karena judulnya yang jelas, tidak bertele-tele. Bab ini membahas bagaimana prosedur yang berlaku dalam pengoperasian yang menurut saya penting untuk diketahui. Penggunaan point-point dalam bab ini memudahkan pembaca untuk mengerti karena bahasanya jelas, tidak bertele-tele. Walaupun penjelasan dalam bab VI ini cukup singkat, makna yang ada dalam penjelasan ini tetap ada dan menarik untuk diketahui.
Bab VII yang berjudul Struktur Organisasi Kerja Bagian Pemberitaan ini dari segi judul menurut saya cukup panjang sehingga sangat jelas walaupun terkesan agak bertele-tele. Bab ini juga memakai sub-subjudul untuk setiap jabatan atau struktur pembagian kerja dalam pemberitaan sehingga jelas karena dijelaskan per subjudul. Akan tetapi, karena bentuk penjelasannya yang paragraf sehingga menurut saya akan memberikan kesan yang panjang dan agak membosankan.
 Akan tetapi, bab ini bagus dan menarik menurut saya karena akan memberikan penjelasan yang menarik tentang struktur pembagian kerja pemberitaan sehingga pembaca dapat mengetahui pekerjaan-pekerjaan dalam pemberitaan. Buku ini juga dilengkapi oleh glosarium, pedoman penulisan bagi wartawan, dan UU tentang pers. Menurut saya, bagian-bagian ini bagus untuk dilampirkan karena dapat menjadi referensi tambahan bagi pembaca dan mempermudah pembaca untuk mengetahui apa yang ada dalam informasi tambahan tersebut. Secara keseluruhan menurut saya, buku ini menarik dan penting untuk dibaca khususnya para Jurnalis televise sehingga menjadi tambahan pengetahuan tentang dunia Jurnalistik Televisi.                   

gravatar

Apresiasi Buku "Jurnalistik Televisi : Menjadi Reporter Profesional" karya Deddy Iskandar Muda


T11/OJ/2010
Firman Fernando Silaban
210110090002
Dalam buku yang berjudul Jurnalistik Televisi Menjadi Reporter Profesional karya Deddy Iskandar Muda, secara keseluruhan memiliki pembahasan yang cukup menarik dalam penyajiannya. Menurut saya, pemilihan judul buku ini cukup mewakili isi dari keseluruhan buku ini. Cover buku ini disajikan dengan menarik sehingga tidak membuat pembacanya menjadi bosan dan tidak terkesan terlalu formal. Namun, isi dari buku ini cukup berbobot. Bab I dalam buku ini berisi tentang sejarah singkat mengenai dunia jurnalisme Televisi dari bahasa Televisi sampai perkembangan pertelevisian di Indonesia. Dalam Bab I, pembahasan selanjutnya mengenai peran reporter dalam produksi pertelevisian bahwa seorang reporter harus bersikap professional dalam melakukan pekerjaannya. Hal tersebut sesuai dengan yang tercantum dalam buku Drs. AS Haris Sumadiria M.Si, Jurnalistik Indonesia, Menulis Berita dan Feature, yang menjelaskan tentang syarat menjadi reporter yang baik. Ketentuan-ketentuan yang dimaksud seperti mempunyai tujuan yang jelas, efisien, menyenangkan, mengandalkan persiapan dan riset awal, melibatkan khalayak, menimbulkan spontanitas, pewawancara sebagai pengendali, mengembangkan logika. Hal tersebut membuat reporter akan menjadi seorang reporter atau pewawancara yang professional.
Dalam Bab II, buku ini membahas tentang pengertian berita. Beberapa definisi berita yang disampaikan Curtis Beckmann, yang dikutip oleh Maduki dalam bukunya yang berjudul Jurnalistik Radio, Menata Profesionalisme Reporter dan Penyiar menyatakan bahwa sebuah berita adalah laporan atas opini atau peristiwa yang penting bagi sejumlah besar khalayak atau publik. Dalam buku ini terdapat sepuluh buah nilai berita, Berbeda dengan yang tercantum dalam buku Jurnalistik Indonesia, Menulis Berita dan Feature karya Drs. AS Haris Sumadiria M.Si. yang memiliki sebelas buah nilai berita. Selain itu pada bab ini juga dijelaskan secara detail tentang berita media elektronik, memilih Berita, dan jenis berita.
Dalam Bab III, buku ini membahas mengenai bagaimana menulis naskah berita televisi yang baik dan benar. Penjelasan mengenai penulisan berita, memiliki beberapa formula yang di antaranya accuracy, brevity, clarity, simplicity, dan sincerity. Pembahasan dilanjutkan dengan analogi piramida terbalik dalam penulisan struktur berita. Menurut saya penempatan berita yang dianggap paling penting diletakkan di bagian paling awal karena sesuai dengan yang disampaikan dalam Jurnalistik Indonesia yaitu, piramida terbalik berarti pesan berita disusun secara deduktif atau berawal dari berita yang paling penting.
Dalam Bab IV, buku ini membahas tentang proses peliputan berita sampai proses penyiaran nantinya. Menurut saya, kita diberitahukan tentang persiapan yang dilakukan sebelum kita melakukan proses peliputan berita, Dimulai dari bagaimana cara menggambarkan peristiwa dalam berita, dilanjutkan dengan cara bagaimana cara menulis  lead berita yang baik dan menarik, menyunting dan menyusun berita, sampai dengan proses menulis naskah berita. Bab ini melampirkan beberapa contoh-contoh naskah lead berita, shot list, dan beberapa istilah yang digunakan dalam penulisan naskah berita. Menurut saya, hal ini cukup membantu kita sebagai pembaca agar memahami materi yang disampaikan dalam buku ini. Bab ini lebih banyak menjelaskan tentang teknis, seperti bagaimana mengambil gambar yang bagus.
Dalam Bab V, buku membahas tentang proses penyiaran berita di televisi. Buku ini menjelaskan tentang apa itu buletin berita dan bagaimana cara menyusun urutan prioritas dalam penyampaian berita. Lalu dibahas juga mengenai lima format dalam proses penyajian berita dan berbagai hal seputar penyiaran berita. Dijelaskan juga tentang bentuk penyajian berita yang menyertakan penjelasan tentang dubbing dan tune berita. Pada bagian akhir bab ini dijelaskan mengenai tanggung jawab mengenai penyiaran berita dan keterlibatan crew dalam proses penyiaran berita. Dalam bab ini juga dijelaskan mengenai beberapa format penulisan atau penyajian berita untuk televisi, dan beberapa contoh yang membuat pembaca mudah mengerti
Dalam Bab VI, buku ini membahas tentang standar prosedur pengoperasian, kita akan diberi semacam kiat-kiat dalam melaksanakan siaran berita baik itu siaran tunda maupun siaran langsung dari mulai tahap persiapan hingga pasca-produksi. Secara keseluruhan bab ini sudah masuk kedalam proses produksi berita. Pada proses ini tidak berbeda dengan proses produksi pada dalam proses jurnalistik radio.
Dalam Bab VII, buku ini menjelaskan tentang struktur organisasi kerja bagian pemberitaan. terdapat 13 bagian kerja pada dunia, mulai dari direktur pemberitaan sampai dengan koresponden spesialis. Dalam bab ini, dijelaskan mengenai tugas yang harus diemban oleh setiap jabatan dalam organisasi pemberitaan serta hal-hal lain yang berkaitan dengan program kerja masing-masing jabatan tersebut. Bab ini dirasakan juga cukup bermanfaat bagi siapa saja yang masih belajar tentang dunia jurnalistik pertelevisian. Hal ini menandakan bahwa pembagian kerja pada dunia pemberitaan dalam dunia jurnalistik televisi tidak sesederhana seperti yang ada pada dunia jurnalistik radio.
Secara keseluruhan isi buku Jurnalistik Televisi, Menjadi Reporter Profesional karya Deddy Iskandar Muda ini sangat menarik dan cukup mudah untuk dimengerti sehingga baik bagi para calon wartawan televisi.

gravatar

Apresiasi Buku “Jurnalistik Televisi Menjadi Reporter Profesional” Karya Deddy Iskandar Muda

T11/OJ/2010
Hafiz Sezario Indra
210110090062
Buku jurnalistik televisi karya Deddy Iskandar Muda ini menyajikan tentang bagimana perkembangan jurnalistik televisi di Indonesia. Pada bab 1 dijelaskan tentang sejarah perkembangan penyebaran informasi yang tidak hanya membahas tentang televisi daja melainkan juga membahas tentang perkembangan informasi melalui media lain seperti media cetak surat kabar, dan media elektronik radio. Penjelasan ini memberikan gambaran kepada pembaca bagaimana perkembangan pentebaran informasi yang terjadi sebelum hadirnya media berupa televisi.
Selain itu pada bab ini juga dijelaskan berbagai macam produk teknologi pertelevisian yang digunakan orang sebagai media untuk menyebarkan dan menyampaikan pesan atau hiburan yang terdiri dari sepuluh poin. Namun sayangnya penulis kurang menjelaskan secara detail kesepuluh poin tersebut, sehingga pembaca hanya mendapat gambaran secara umumnya saja. dan tidak diberikan contoh teknologi-teknologi tersebut. Hanya beberapa poin saja yang dijelaskan dengan memberikan contoh.
Pada bab 2 dijelaskan tentang pengertian berita yang dijelaskan berdasarkan pendapat ahli seperti Dean M. Lyle Spencer yang mendefinisikan berita sebagai setiap fakta yang akurat atau suatu ide yang dapat menarik perhatian bagi sejumlah besar pembaca. Pendapat-pendapat ahli ini dapat “menguatkan” pembacanya dalam memahami tentang pengertian berita. Dalam bab ini juga dijelaskan tentang perbedaan berita pada media cetak dan media elektronik.
Selain itu pada bab ini juga dijelaskan tentang jenis berita yang memiliki tiga jenis yaitu Hard News, Soft News, dan Investigative Reports. Buku ini menjelaskan secara detail tentang ketiga jenis berita ini, mulai dari bagaimana reporter memperoleh beritanya hingga apa kelebihan dari setiap jenis berita-berita tersebut. jenis berita dalam media televise tidak jauh berbeda dengan jenis berita di media radio yang ada di dalam buku Jurnalitik Radio karya Masduki, yang juga menjelaskan tiga jenis berita radio yaitu Hard News, Soft News, dan Indept News. Jenis berita di televisi dengan jenis berita di radio sebenarnya bisa di bilang sama, hanya pada poin ketiga saja yang sebenarnya sama, namun hanya namanya saja yang berbeda dan hanya memiliki perbedaan yang sangat kecil.
Dalam bab ketiga dijelaskan tentang Easy Listening Formula dan rumusan 5W + 1H yang juga harus digunakan pada media elektronik. Namun, menurut Masduki dalam buku Jurnalistik Radio menjelaskan bahwa untuk mendapatkan lead  yang baik, selain hanya berisi inti berita, juga harus ringkas dengan hanya memuat satu atau du aide saja, tidak perlu harus lengkap unsure 5W + 1H - nya. Jadi menurut Masduki dalam bukunya, rumusan 5W + 1H tidak mutlak diperlukan dalam membuat lead yang baik dalam media berupa radio, padahal radio termasuk media elektronik yang sebenarnya menurut buku karya Deddy Iskandar Muda ini harus menggunakan rumus 5W + 1H.
Pada bab 3 juga dijelaskan mengenai jenis – jenis wawancara yang dalam media televise di antaranya Live interview, Interview by appointment, Press conference, On the spot Interview, telephone interview, vox pops dan seterusnya. Dalam buku Seni Wawancara Radio karya Jim Beaman juga dijelaskan jenis –jenis wawancara di radio yanhg kurang lebih sama.
Pada bab 4 dijelaskan tahap – tahap persiapan meliput berita hingga berita tersebut siap untuk disiarkan. Dijelaskan untuk penulisan lead di televisi setidaknya membutuhkan atau terdapat tiga jenis yaitu  The Name Lead, The Quotation Lead dan Lead 5W + 1H. penulisan Lead di televisi berbeda dengan lead di radio. Lead di radio menurut Masduki dalam bukunya Jurnalistik Radio menjelaskan tentang lead di radio yang terbagi atas 5 lead yaitu: tease lead, umbrella lead, narrative lead, sound lead, dan question lead. Sedangkan di televisi hanya ada tiga, seperti yang telah disebutkan di atas.
Pada bab 5 dijelaskan tentang bagaimana format dan proses penyiaran. Penulis dalam bab ini menjelaskan dengan cukup lengkap dan dapat membuat pembacanya mudah memahami dan mengerti apa yang di paparkan oleh penulis.
Bab 6 menjelaskan secara rinci bagaimana prosedur pengoperasian dalam menjalankan siaran. Seperti pada meliput berita siaran tunda, penulis mampu memberikan tahap-tahap yang jelas mulai dari persiapan, saat di lokasi peristiwa, maupun pasca-produksi di paparkan dengan sangat jelas dalam bab ini. Begitu pula saat siaran langsung.
Pada bab 7 buku ini menjelaskan tentang struktur organisasi kerja pada bagian pemberitaan. Dengan membaca bab ini pembaca jadi mengetahui apa saja tugas dari setiap bagian-bagian tersebut, mulai dari direktur pemberitaan, wakil direktur pemberitaan, penulis berita, pembantu redaksi, penyiar, reporter, reporter cuaca, reporter olah raga, editor, deputy editor, chief assistant editor, sampau pada chief engineer.  
Buku ini sangat membantu seorang wartawan yang bekerja di bidang televisi. dengan penjelasan yang mudah dipahami dan contoh-contoh yang diberikan mampu membuat pembacanya tidak merasa bosan membaca buku ini. Dan buku ini mampu memberikan pengetahuan lebih kepada seorang wartawan televisi pemula, maupun bagi wartawan yang ingin menggeluti bidang jurnalistik televisi.